Skip to main content

Sakitkah Gun?

Hai Gun, aku ingin bercerita tentang hari itu, hari dimana aku sangat menyesal sekali dan berharap seharusnya aku tidak bertemu dengan mu. Gun, kini kau sudah bersama yang lain, yang aku harap kau lebih bahagia ketimbang bersama ku. Mungkin untuk saat ini hanya itu yang aku inginkan. Berharap agar senyum dari mu tidak pernah hilang. Tapi ingat, bila sekali saja dia membuat mu menangis, akan ku buat ibunya menangis di pemakamannya. Biar aku sudah tidak menghubungi mu lagi, bukan berarti sayang ku ke kau telah lenyap. Enak saja! Kau pikir mudah menghilangkan rasa sayang dan cinta ku pada mu, hah? Aku tetap khawatir ketika kau sakit dan sendirian, dan aku tetap senang ketika kau tertawa dan bahagia, meski bukan bersama ku.

Hai Gun, aku ingat perjalanan kita. Ketika itu. Ketika kita masih canggung dan saling bingung untuk membuka percakapan. Ketika kita saling bertatap untuk sebuah adegan. Ketika aku sangat tenang ketika aku melihat mata mu yang menawan. Kau tahu, Gun? Dari situ lah aku sudah mulai menyukai mu. Tapi kau? Aku tidak tahu. Kau bilang bahwa perasaan itu tidak bisa ditebak dan diduga, itu adalah rahasia sang insan. Aku setuju dengan pendapat kau itu. Lalu kita berjalan lagi. Kita bersama dalam sebuah kegiatan yang direncanakan. Kau tahu lagi, Gun? Astaga! Aku sangat senang sekali bersama mu, di samping mu, dan menatap mu. Aku sangat rindu ketika aku dapat berbicara lepas kepada mu, dan mendengar suara mu yang sungguh lucu menurutku, suara yang lirih dan terkesan dipaksakan. Tetapi itu adalah suara mu, bagaimanapun suara mu selalu terngiang di telinga ku, dan wajah mu selalu hadir dalam pikiran ku ketika aku ingin terlelap tidur. Hanya begitu lah cara ku untuk senang dan tersenyum. Yaitu dari harapan yang berlebihan.

Hai Gun, ketika kita sudah dekat, dan menurutku itu adalah waktu yang cocok untuk aku mengutarakan perasaan ku kepada mu, tetapi aku terlalu takut untuk berkata-kata kepada mu, terlalu pengecut untuk mengungkapkan apa yang aku pendam selama ini, dan terlalu sabar dalam penantian yang tak jelas arahnya. Bahkan ketika kau mendesak ku untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan di malam itu, aku tetap saja diam dalam lamunan. Aku malah mengkhawatirkan mu. Banyak angan dan reaksi yang ada di kepala ku malam itu. Dan aku sangat bodoh, aku memiliki banyak kata dipikiranku untuk aku ucapkan pada mu, tetapi yang keluar adalah “istirahatlah, besok kau akan beraktifitas lagi, kau harus sehat” betapa anehnya aku malam itu. Aku minta maaf.

Hai Gun, tetapi, apakah jika aku mengatakan bahwa aku mencintai mu, kau akan menganggap ku bercanda ataukah serius? Tetapi, apakah jika aku mengatakan bahwa aku sangat menyayangi mu, kau akan siap dengan pernyataan itu ataukah kau malah menjauh dari ku? Tetapi, apakah jika aku mengatakan bahwa aku ingin kau menjadi bagian dari hati ku, menjalani hari bersamaku dan saling berbagi cinta kasih, kau akan menerima ku ataukah malah menganggap ku gila?

Lalu datanglah hari itu. Hari yang sangat menakutkan bagi ku, Gun. Hari dimana kau telah menemukan sesuatu yang baru, sesosok diri yang lebih baik. Kau tahu rasanya, Gun? Bagai hati yang terhempas dari 15.000 mdpl, tergilas roda truk, tercabik pisau daging, terbakar pelebur baja, terhanyut ombak samudra, dan hilang entah kemana. Aku yang terpaksa melihat mu berdua. Aku yang bahagia sekaligus berduka. Aku yang menyesal tiada tara. Aku yang melihat kau tersenyum disampingnya. Pikiran ku kacau. Hati ku hancur. Raga ku runtuh. Jiwa ku telah mati.

Hai Gun, aku selalu berharap bahwa kau tetap senang dan bahagia, meskipun bukan diciptakan oleh ku. Apakah ini yang namanya cinta? Ketika mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi. Tapi Gun, jika keinginanku mencintaimu adalah untuk berpacaran, maka disitulah arti cinta berhenti. Biarpun begitu aku tetap mencintai mu dan menyayangi mu. Biarlah orang mencaci bahwa aku idiot, mereka tidak tahu apa-apa tentang perasaan ini. Perasaan yang kekal adanya karena mu. Perasaan suka yang telah, sudah, dan akan.

Hai Gun, ini cerita aku tujukan kepada mu. Bila kau sudah membaca nya sampai disini. Maka maafkan lah aku yang telah membuang waktu berharga mu yang seharusnya kau gunakan untuk sesuatu hal yang berguna. Tetapi inilah aku, yang selalu berharap untuk membuat mu senang. Bagaimanapun caranya, beritahu aku, maka akan aku lakukan!

Hai Gun, janganlah kau mati dahulu. Ada banyak orang yang menyayangimu. Apa kau tega melihat mereka menangis menjerit kehilanganmu? Aku mau bertengkar dengan malaikat agar roh mu tetap di dalam raga mu. Tapi tolong, Gun. Kau harus tetap hidup. Agar semua kenangan yang ada diotak ku tidak terbuang sia. Agar apa yang selalu aku harapkan tetap menjadi impian. Agar kau selalu tersenyum di dunia.

Sudah sampai di ujung cerita Gun, apakah kau masih berniat untuk melanjutkannya? Atas semua cerita yang dan segala macam kenangannya? Berhenti lah. Aku mohon. Aku memang mengharapkan laki-laki seperti mu Gun, tetapi aku yang seperti ini bisa apa dibanding dia yang segalanya melebihi ku?

Hai Gun, tidurlah. Tak apa, kau memang perlu istirahat, dan kami sudah siap untuk menangisi mu. Maafkan kami Gun. Tapi itu adalah hakikat cinta. Merelakan.


Ch. 22-12-2015

Comments

Post a Comment