Skip to main content

Aku Rindu (Gak Deng Boong)

Oi, aku rindu. Dengan masa lalu aku bersamamu. Ketika saat aku melihatmu, bukanlah senang dan tentram dalam hati yang kuterima, tetapi gundah dan gusar yang kurasa. Aku ingat sekali, kamu sering berganti foto di laman media sosialmu, aku selalu perhatikan, terkadang juga aku simpan beberapa foto-foto dirimu. Setelah kemudian kamu berpacaran dengan kekasihmu itu. Pacar yang pada awalnya adalah seperti permen, begitu manis, manis sekali dan menyejukan, setelah berapa lama manisnya pun hilang, begitu juga dengan rasanya, dan kemudian permennya. Lenyap tak bersisa kedalam lidah.

Pada kesempatan itu, kamu seakan memamerkan kemesraan melalui gambar, agar seluruh manusia, tidak, seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah miliknya dan kalian sedang berpacaran, yang artinya tidak boleh ada seorangpun merebut salah satu dari kalian untuk dijadikan kekasih. Itu sudah barang tentu!

Aku di belakang layar hape sambil tersenyum dan menahan sakit bertanya: “kapankah siksaan ini akan berakhir.” Tapi kenapa aku menanyakannya? Katanya ‘asal kamu bahagia, aku turut bahagia’, tapi ah tai lah itu semua. Aku menunggu kalian berpisah bukan untuk mendekat lagi denganmu, lebih dari itu, ayolah, buat yang lebih menarik, apa lagi selain untuk menertawakanmu? Tapi kenapa aku mesti tertawa, bukankah itu jahat? Ah tidak juga. Itu hanya hiburan untuk diriku sendiri, karena sudah membayangkan waktu-waktu yang aku habiskan untuk bisa membahagiakanmu dan berharap bisa bersamamu dan terus bersenang-senang, tapi itu semua adalah imajinasi bodoh, dan yang bisa seperti itu adalah kekasihmu itu. Ya, yang itu.

Setiap bulan bertambah, tambah lagi foto-foto baru, perjalanan kesana-kesini kamu pamerkan dan bagikan ke orang, tidak lupa dengan deskripsi singkat nan romantis yang menyebutkan betapa beruntungnya kamu bisa mendapatkan kekasih sepertinya, untuk kemudian kekasihmu itu membalas berupa komentar dengan kata-kata yang manis pula dan pujian terhadap dirimu. Aduhaiii!!! Indahnya konstruksi dunia kalian berdua. Seandainya aku bisa masuk ke dalam dunia kalian, lalu menjual Me-zone seperti di lorong-lorong bis antar kota. Mijon mijon mijonnya mbak, mas mijon? Mijon mijon! Maka rusaklah keromantisan kalian dengan aroma asam ketek yang permisi bolak-balik.

Berbulan-bulan telah aku lewati, kamu masih bersamanya, tapi sudah mulai jarang mengekspos diri sendiri atau bersama pacar. Mungkin sibuk, mungkin malas, mungkin bosan, mungkin juga bertengkar. Ups. Siapa tahu? Semua itu ‘kan hanya kemungkinan-kemungkinan. Tapi aku harap jangan. Janganlah kalian berdua putus karena hal-hal sepele. Putus pacaran karena hal yang besar saja, seperti misalnya ternyata kekasih kamu itu transgender dan kamu tidak bisa menerimanya. Atau, ternyata kekasih kamu ternyata adalah seekor badak bercula satu yang sedang menyamar jadi manusia tampan, kaya raya, sombong, dan selalu serius. Atau, ternyata kekasih kamu kulitnya terbuat dari alumunium foil, sehingga kalau terbakar bukannya hangus tetapi malah jadi presto atau mashhuman, mirip dengan mashpotato.

Dan, baru kemarin rasanya aku berusaha mendekat denganmu, dengan segala cara-cara yang aku harap bisa kamu terima dan membahagiakanmu. Dan, baru kemarin rasanya aku melihat kamu dengan kekasihmu saling mencintai dan menyayangi, menunjukan ke orang-orang, ah tidak, ke dunia bahwa kamu dan kekasihmu sangat saling cinta. Dan, kenapa kemarin juga aku melihat kalian berdua saling hapus menghapus foto? Foto-foto berharga kekasih kalian, pacar kalian, yang selalu kalian puji-puji setiap waktu, yang selalu kalian utamakan, prioritaskan, dahulukan pada urusan apapun, yang selalu menemani kalian setiap waktu hampir 20jam sehari, yang selalu menjadi tempat penampung cerita, keluh kesah, sekaligus pemberi solusi, yang selalu kamu idam-idamkan untuk dapat hidup bersama, selamanya. Yang ternyata sudah sejauh ini kamu baru sadar, bahwa kalian berdua tidak cocok. Kemanakah foto-foto itu? Bukankah setiap foto adalah kenangan yang berharga? Kenapa kamu dan kekasihmu itu tapi sekarang sudah bukan lagi kompak menghapus kenangan-kenangan itu?

Apakah yang membuat kalian berdua sanggup untuk melupakan itu semua? Segala bentuk kesenangan dan kasih sayang. Hal-hal apakah yang akhirnya dapat memutuskan untuk saling menghapus dan menghilangkan satu sama lain? Kejadian apakah itu? Atau rintangan apakah yang akhirnya membuat kalian berdua terjungkal masuk ke dalam lubang perpisahan?

Disini, aku tertawa cekikikan berimajinasi tentang skenario-skenario apa yang akan terjadi kedepannya. Apakah kalian terus berpisah atau bertemu kembali untuk berharap dapat berpisah lagi, begitu seterusnya. Aku rindu, dengan apa yang telah aku lewati dahulu. Dengan rasa senang dan sakit yang datang bersamaan dan yang selalu melekat dalam diri ini adalah serpihan-serpihan rasa sakit itu. Aku rindu dengan harapan-harapan kosong atau mungkin istilah lainnya adalah “khayalan si gembel” yang kita sama-sama tahu bahwa harapan itu tidak akan terjadi. Aku rindu dengan semua itu, yang membuat aku seperti orang yang tak berotak dan sulit untuk berpikir karena ketika aku bertemu dengan kamu, aku seperti sedang mannequin challenge. Tai.

Dan,

Sialan! Sedang apa aku disini menulis tentang hidup dua orang yang sebenarnya tidak perlu aku pusingkan? Apa mungkin karena negara ini hobi sekali sibuk mengurusi hidup orang lain, jadi rakyat-rakyatnya pun juga ikut-ikutan. Maafkan aku yang hanya duduk disini sambil memutar kembali memori dan lalu untuk ditertawakan bersama-sama. Karena, hidup ini adalah lelucon, bukan?



Ch 19-02-2017

Comments